Nama : Bella octavia
Kelas : X Otomatisasi dan tatakelola perkantoran
Tugas: Membuata anekdot
Cuma Salah Satu, kok
Pada suatu hari, Udin pulang ke rumahnya dengan hati yang gembira, setelah mengetahui nilai ulangan matematikanya. Ayah Udin—Barjo, sangat keheranan melihat tingkah kelewat senang anak satu-satunya itu.
"Din, kamu kenapa, sih seneng banget gitu?" tanya Barjo. Udin memamerkan cengirannya sebelum menjawab pertanyaan dari ayahnya. Lalu, ia pun menjawab, "Gini, Yah, tadi pas ulangan matematika, Udin cuma salah satu soal." Barjo yang mendengar itu, lantas menepuk-nepuk kepala Udin, merasa bangga dengan pencapaian anaknya.
Dengan bangga, Barjo berkata, "Itu berarti nilaimu bagus yah, Din!"
"Ah, nggak juga, Yah!" tukas Udin sambil mengibaskan tangannya di depan dada. "Loh? Lalu gimana toh?"
Udin dengan penuh wibawa menjelaskan, "Saya hamya salah satu soal, dari sepuluh soal, jadi sisanya sembilan, dan yang sembilan itu lupa saya kerjakan."
Barjo yang mendengar perkataan anaknya, seketika ambruk. Udin panik, dia mencoba menggoyangkan tubuh ayahnya seraya berkata, "Yah, bangun! Udin salah apa, Yah? Bangun, Yah, bangun! Udin cuma salah satu, kok, Yah!"
Kelas : X Otomatisasi dan tatakelola perkantoran
Tugas: Membuata anekdot
Cuma Salah Satu, kok
Pada suatu hari, Udin pulang ke rumahnya dengan hati yang gembira, setelah mengetahui nilai ulangan matematikanya. Ayah Udin—Barjo, sangat keheranan melihat tingkah kelewat senang anak satu-satunya itu.
"Din, kamu kenapa, sih seneng banget gitu?" tanya Barjo. Udin memamerkan cengirannya sebelum menjawab pertanyaan dari ayahnya. Lalu, ia pun menjawab, "Gini, Yah, tadi pas ulangan matematika, Udin cuma salah satu soal." Barjo yang mendengar itu, lantas menepuk-nepuk kepala Udin, merasa bangga dengan pencapaian anaknya.
Dengan bangga, Barjo berkata, "Itu berarti nilaimu bagus yah, Din!"
"Ah, nggak juga, Yah!" tukas Udin sambil mengibaskan tangannya di depan dada. "Loh? Lalu gimana toh?"
Udin dengan penuh wibawa menjelaskan, "Saya hamya salah satu soal, dari sepuluh soal, jadi sisanya sembilan, dan yang sembilan itu lupa saya kerjakan."
Barjo yang mendengar perkataan anaknya, seketika ambruk. Udin panik, dia mencoba menggoyangkan tubuh ayahnya seraya berkata, "Yah, bangun! Udin salah apa, Yah? Bangun, Yah, bangun! Udin cuma salah satu, kok, Yah!"
Komentar
Posting Komentar